Beranda » Farmakologi » Farmakologi Sistem Imunologi

Farmakologi Sistem Imunologi

REAKSI INFLAMASI (RADANG)

DEFINISI: Kerusakan jaringan akibat luka atau invasi mikroorganisme patogenik akan memicu suatu kompleks kejadian yang dinamakan respon radang atau inflamasi.

ALERGI (HIPERSENSITIFITAS)

Adalah reaksi tak diinginkan (kerusakan, ketidaknyamanan dan kadang-kadang fatal) akibat sistem imun normal. Antigen yang memicu reaksi alergi dinamakan alergen. Reaksi alergi digolongkan menjadi 4 macam yaitu tipe I, tipe II, tipe II dan tipe IV didasarkan pada mekanisme dan waktu terjadinya reaksi.

  1. Hipersensitifitas tipe   I  = hipersensitif segera = anafilaktik.
  2. Hipersensitifitas tipe II  = hipersensitifitas sitotoksik.
  3. Hipersensitifitas tipe III = hipersensitifitas kompleks imun.
  4. Hipersensitifitas tipe IV  = hipersensitifitas diperantarai sel = hipersensitifitas tipe lambat.

Apa yang Dimaksud dengan Imunitas?

Imunologi (imun= kebal dan logos= ilmu) : ilmu yang mempelajari kekebalan tubuh.

Imunitas          : perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Sistem imun     : Sel-sel dan molekul yang terlibat dalam perlindungan

Respon imun    : respon untuk menyambut agen asing (antigen), misalnya virus. Beberapa agen asing seperti allergen dapat menyebabkan penyakit sebagai konsekuensi akibat menginduksi respon imun.

IMUNISASI

  • Imunisasi adalah memberikan perlindungan spesifik terhadap patogen-patogen tertentu.
  • Imunitas spesifik bisa didapat dari imunisasi aktif atau pasif dan dapat terjadi secara alamiah atau buatan.

Anti Tetanus Serum ( ATS )

  • Nama : Tetanus antitoxins.
  • Sifat Fisikokimia : Serum yang dibuat dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap toksin tetanus. Plasma ini dimurnikan dan dipekatkan serta mengandung fenol 0.25% sebagai pengawet.
  • Bentuk Sediaan : Ampul 1 ml (1.500 IU), 2 ml (10.000 IU). Vial 5 ml (20.000 IU)
  • Indikasi : Pencegahan dan pengobatan tetanus.
  • Farmakologi : Menetralkan toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani dan digunakan untuk memberikan kekebalan pasif sementara terhadap tetanus, tetapi imunoglobulin tetanus lebih disukai

Analgetik, Antipiretik & Antihistamin

  •  Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa meghalangi kesadaran.
  • Antipiretik adalah zat-zat yg dapat mengurangi suhu tubuh.
  • Anti-inflamasi adalah obat atau zat-zat yang dapat mengobati peradangan atau pembengkakan.
  • Antihistamin (antagonis histamin ) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin

Nyeri

Nyeri adalah perasaan sensoris dan lemah emosional yang tidak enak dan berkaitan dengan ancaman (kerusakan) jaringan.

Mediator nyeri

  • Mediator nyeri antara lain mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa, dan jaringan lainnya.
  • Nociceptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di system saraf pusat.
  • Dari sini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan yang hebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sinaps yang amat banyak melalui sum-sum tulang belakang, sum-sum tulang lanjutan dan otak tengah. Dari thalamus impuls diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri.
  • Adapun mediator nyeri yang disebut juga sebagai autakoid antara lain serotonin, histamine, bradikinin, leukotrien dan prostglandin2. Bradikinin merupakan polipeptida (rangkaian asam amino) yang diberikan dari protein plasma.

Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:

  1. Analgetik Perifer (non narkotik) . Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
  2. Analgetik Narkotik. Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.

Nyeri pada kanker umumnya diobati menurut suatu skema bertingkat empat, yaitu:

  1. Obat perifer (non Opioid) peroral atau rectal; parasetamol, asetosal.
  2. Obat perifer bersama kodein atau tramadol.
  3. Obat sentral (Opioid) peroral atau rectal.
  4. Obat Opioid parenteral.

Obat golongan Antiinflamasi non Steroid (NSAID)

  • Turunan asam salisilat         : aspirin, salisilamid,diflunisal.
  • Turunan 5-pirazolidindion     : Fenilbutazon, Oksifenbutazon.
  • Turunan asam N-antranilat   : Asam mefenamat, Asam flufenamat
  • Turunan asam arilasetat      : Natrium diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen.
  • Turunan heteroarilasetat      : Indometasin.
  • Turunan oksikam                : Peroksikam, Tenoksikam.

ANTIHISTAMIN

  • Obat yang dapat mengurangi a/ menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme p’hambatan bersaing pada sisi reseptor H1 dan H2
  • Antagonis-H1  : untuk pengobatan gejala-gejala akibat reaksi alergi.
  • Antagonis-H2  : untuk mengurangi sekresi asam lambung pada pengobatan tukak lambung

Histamin

  • Senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh ( sel mast & basofil ).
  • Berperan thd berbagai proses fisiologis penting yaitu mediator kimia yang dikeluarkan pada fenomena alergi seperti rhinitis, asma, urtikaria, pruritis dan anafilaksis.

Efek Histamin + reseptor H1

  • Kontraksi otot polos usus & bronki, Meningkatkan permeabilitas vaskular, Meningkatkan sekresi mukus peningkatan cGMP dl sel, Vasodilatasi arteri permeabel thd cairan & plasma protein sembab, pruritik, dermatitis, & urtikaria. Efek ini diblok oleh antagonis-H1
  • Contoh antagonis H1  : diphenhydramine, chlorpheniramine, fexofenadine, loratadine

Efek Histamin + reseptor H2

  • Meningkatkan kecepatan kerja jantung, Meningkatkan sekresi asam lambung penurunan cGMP dl sel & peningkatan cAMP dl sel tukak lambung. Efek ini diblok oleh antagonis-H2
  • Contoh Antagonis H2: Simetidin, Ranitidin HCL, Famotidin, Roksatidin Asetat HCl

Kortikosteroid

  • Obat-obat golongan kortikosteroid seperti prednison, dexametason dan hydrocortisone memiliki potensi efek terapi yang cukup ampuh dalam pengobatan berbagai penyakit seperti asma, lupus, rheumatoid arthritis dan berbagai kasus inflamasi lainnya.
  • Tapi kortikosteroid juga memiliki berbagai efek samping, oleh karena itu sebelum menggunakan kortikosteroid apalagi dalam jangka waktu lama dan dosis tinggi sebaiknya berhati-hati

Bagaimana Kortikosteroid bekerja?

Obat golongan kortikosteroid sebenarnya memiliki efek yang sama dengan hormon cortisone dan hydrocortisone yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, kelenjar ini berada tepat di atas ginjal kita. Dengan efek yang sama bahkan berlipat ganda maka kortikosteroid sanggup mereduksi sistem imun (kekebalan tubuh) dan inflamasi, makanya jika orang dengan penyakit-penyakit yang terjadi karena proses dasar inflamasi seperti rheumatoid arthritis, gout arthritis (asam urat) dan alergi gejalanya bisa lebih ringan setelah pemberian kortikosteroid.

Efek Samping Kortikosteroid

  1. Efek samping jangka pendek : Peningkatan tekanan cairan di mata (glaukoma), Retensi cairan, menyebabkan pembengkakan di tungkai, Peningkatan tekanan darah, Peningkatan deposit lemak di perut, wajah dan leher.
  2. Efek samping jangka panjang : Katarak, Penurunan kalsium tulang yang menyebabkan osteoporosis dan tulang rapuh sehingga mudah patah, Menurunkan produksi hormon oleh kelenjar adrenal, Menstruasi tidak teratur, Mudah terinfeksi, Penyembuhan luka yang lama

Handout lengkap DOWNLOAD DI SINI

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: